Kakek Samirin dan Kisah Si Papa yang Dipenjara

Kakek Samirin dan Kisah Si Papa yang Dipenjara

peugeotcumple.com – Untuk menyambung hidupnya, kakek Samirin jadi penjaga lembu dengan gaji Rp 20 ribu /hari. Dalam satu waktu, Samirin ambil tersisa getah karet dari perkebunan punya Bridgestone sebesar Rp 17.450 untuk menambal ongkos hidup. Apa nyana, Samirin harus meringkuk di penjara.

Jaksa pada akhirnya memenjarakan kakek Samirin. Faktanya, jaksa takut Samirin kabur serta tidak hadir ke pengadilan untuk turut sidang.
Kakek Samirin serta Cerita Si Papah yang Dipenjara

Baca juga : ‘Raja-Ratu’ Keraton Agung Sejagat Resmi Jadi Tersangka

“Ini kan benar-benar subjektif, kemalasan jaksa. Jenis mana ingin kabur? Koruptor dapat kabur, ini kan masyarakat biasa. Dimana keadilan,” kata anggota DPR Hinca Panjaitan dengan berang.

Sesudah proses sidang di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Sumatera Utara, Samirin diberi hukuman 2 bulan 4 hari penjara serta langsung bebas pada Rabu (15/1/2020). Bukan masalah pertama-tama si papah harus meringkuk di penjara.

Berikut masalah si papah bertemu dengan hukum yang dirangkum detikcom, Kamis (16/1/2020):

1. Nelayan Ujung Kulon
Tiga nelayan asal Kecamatan Sumur, Ujung Kulon, Banten, Misdan-Damo-Rachmat, ditangkap waktu cari ikan di atas kapal kecil di perairan dekat Pulau Handeuleum pada 3 Oktober 2014. Mereka diamankan petugas Kepolisian Rimba Taman Nasional Ujung Kulon sebab dipandang melanggar hukum yakni tangkap kepiting, udang serta ikan di lokasi konservasi rimba Ujung Kulon.

Tanpa ada dikasih peluang untuk menerangkan peristiwanya, ke-3 nelayan malang itu langsung digiring polisi rimba serta dijebloskan ke penjara. Misdan dkk pasrah. Sesudah diadakan persidangan, jaksa tuntut mereka bertiga sepanjang 4 bulan penjara serta denda Rp 500 ribu.

Pengadilan Negeri (PN) Pandeglang mementahkan tuntutan jaksa. Majelis hakim yang terbagi dalam Yunto Safarillo, Nurhayati serta Imelda Merlina melepaskan Misdan dkk. Keputusan ini dikuatkan pada tingkat kasasi.

2. Penebang Kayu Bakar
Busrin diamankan anggota polisi dari Polair Polres Probolinggo di rimba mangrove di kampungnya di Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, pada 16 Juli 2014 kemarin. Bermodal bukti ranting-ranting mangrove, Busrin dijebloskan ke penjara.

Oleh PN Probolinggo, Busrin diberi hukuman 2 tahun serta denda Rp 2 miliar subsidair 1 bulan. Busrin dikatakan salah sebab melanggar Klausal 35 huruf e,f serta g UU Nomor 27 Tahun 2007 mengenai Pengendalian Daerah Pasir serta Pulau-pulau Terluar.

Siapakah Busrin? Dia adalah kuli pasir yang buta huruf, buta hukum serta miskin. Ranting mangrove sedianya akan dipakai untuk kayu bakar di dapur tempat tinggalnya.Atas kezaliman ini, Busrin dibantu LBH ditempat ajukan pemeriksaan kembali (PK) tetapi gagal.

3. Peradilan Sesat dari Semarang

Sri Mulyati dijebloskan ke penjara semenjak Juli 2011 atas dakwaan mengeksploitasi anak dibawah usia untuk kerja dalam tempat karaoke. Walau sebenarnya Sri hanya kasir karaoke yang mendapatkan upah Rp 750 ribu per bulan.

Perlawanan Sri pada akhirnya dipenuhi. Tiga hakim agung yakni Prof Dr Komariah Emong Sapardjaja, Suhadi serta Dr Salman Luthan melepaskan Sri pada 24 Juli 2012. Sri bebas selesai menempati penjara sepanjang 13 bulan lamanya.

Lalu Sri juga menuntut atas apa yang dirasakannya dibarengi LBH Mawar Saron. Sesudah berusaha, Sri cuma mendapatkan ubah rugi Rp 5 juta. Ubah rugi sepanjang dia mendekam 13 bulan di penjara serta kehidupan keluarganya morat-marit serta trauma.

Sesudah sekian tahun menuntut, Sri memperoleh ubah rugi dari negara sekitar Rp 5 juta.

4. Tukang Ojek
Masalah ini berawal waktu polisi tangkap Hasan Basri pada 9 November 2011 yang lalu di pangkalan ojek Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Tanpa ada ba bi bu, seputar jam 20.00 WIB, Hasan dibawa beberapa polisi ke Polsek Menteng dengan dakwaan terjebak perampokan.

Di Polsek Menteng, Hasan mengatakan diminta untuk mengaku dakwaan polisi. Kemudian, Hasan harus mendekam di tahanan Polsek Menteng serta diteruskan di Rutan Salemba.

Sesudah lewat persidangan sepanjang kurang lebih 6 bulan, Hasan pada akhirnya divonis tidak bersalah pada 20 Juni 2012 oleh PN Jakpus.

5. Didakwa Membunuh
Polisi serta jaksa menuduh Krisbayudi jadi aktor pembunuhan serta memenjarakannya sepanjang 251 hari. Sampai pada akhirnya dapat dibuktikan dakwaan polisi hanya bualan semata-mata. Karena pembunuh sebetulnya ialah rekan Krisbayudi, Karunia Awafi. PN Jakut melepaskan Krisbayudi pada awal 2012.

Buruh pabrik itu lalu ajukan praperadilan ke PN Jakut dibarengi LBH Mawar Saron. Majelis hakim menyetujui praperadilan yang diserahkan Krisbayudi serta menjatuhkan denda Rp 1 juta pada Polda Metro Jaya serta Kejaksaan Negeri Jakarta Utara (Kejari Jakut). Rp 1 juta itu jadi ubah rugi Kris menempati penjara sepanjang 251 hari.

 

Leave a Reply